Monday, 14 October 2019

BAHAN AJAR IPA BERBASIS LITERASI SAINS


Buku bahan ajar IPA berbasis literasi sains  disusun sebagai rujukan bagi mahasiswa PGSD dalam membuat bahan ajar IPA. Hal ini tidak terlepas dari hasil PISA Indonesia tahun 2015 yang mendapatkan 403 poin. Perolehan nilai yang didapatkan pada tes PISA tahun sebelumnya pun belum mampu menembus nilai rata-rata 500 dari nilai yang ditetapkan, skor Indonesia berada pada Low Internasional Bencmark. Salahsatu faktor penyebabnya adalah masih lemahnya budaya sains di Indonesia. Oleh karena itu, melalui buku ini mahasiswa mendapat petunjuk dalam pembuatan bahan ajar. Sehingga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan literasi sains lebih luasnya menjadi literat sains.
Ebook dapat di download di bawah ini:
ATAU

Tuesday, 8 August 2017

PENDEKATAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran kontekstual (CTL) bermula dari pengalaman pembelajaran tradisional oleh John Dewey pada tahun 1916 di USA, merumuskan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang terikat dengan pengalaman dan minat siswa. Definisi belajar dan mengajar kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar terbaik bila apa yang dipelajari terkait dengan yang telah mereka ketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pemanduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pegetahuan yang kuat dan mendalam, sehingga  siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya.
Dalam pembelajaran menulis dengan pendekatan kontekstual, menulis dipandang sebagai aktivitas manusia, siswa harus aktif dengan berbagai cara, seperti belajar secara individual atau kelompok untuk mengola/memproses informasi agar dapat menemukan kembali atau mengkonstruksi kembali pengetahuan dalam pikirannya. Kepada siswa disodorkan masalah-masalah kontekstual atau realistik, yaitu masalah-masalah yang dekat atau berkaitan dengan dunia nyata. Pada pendekatan kontekstual/realistik, proses lebih diutamakan sebab dengan proses yang baik akan memperoleh produk yang baik dengan probabilitas yang tinggi.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan strategi mereka sendiri.

TUJUAN DAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SERTA VISI DAN MISI KEMENDIKBUD

MAKALAH

TUJUAN DAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
SERTA VISI DAN MISI KEMENDIKBUD

Di Ajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok pada Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dasar

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Syarif Sumantri. M.Pd.




Oleh:

1.        ROSSI ISKANDAR                   7526150398
2.        YOMA HATIMA                         7516150540
3.        JAJANG BAYU KELANA       7526150392


PROGRAMSTUDI PENDIDIKAN DASAR
PROGRAM PASCA SARJANA
FAKULTASILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKATA
2016


 

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen). Permasalahan tersebut bukan hanya pada peserta didik, tetapi juga pada tenaga kependidikan, sarana-dan prasarana, kurikulum, dan faktor pendukung pendidikan lainnya. Departemen pendidikan dan seluruh punggawa-nya melakukan semua usaha peningkatan mutu pendidikan tingkat dasar dan menengah melalui langkah-langkah yang prospektif. Peningkatan kualitas pendidikan tersebut merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Hal tersebut dilakukan untuk mencapai standar nasional pendidikan sebagaimana telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, yaitu Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam Pasal 2 tersebut diatur bahwa ruang lingkup standar nasinal pendidikan terdiri dari delapan ruang lingkup, yakni: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian. Berikut akan kami bahas lebih dalam mengenai Standar Nasional Pendidikan.

Thursday, 1 December 2016

PERANGKAT PEMBELAJARAN

Pendidikan menurut Yusuf Abidin (2014: 4) adalah proses yang bersifat terencana dan sistematik, karena itu perencanaannya disusun secara lengkap, dengan pengertian dapat dipahami dan dilakukan oleh orang lain dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. Sebagai illustrasi dapat dicontohkan profesi seorang Insinyur bangunan. Rancang bangun yang disusunnya dapat dilaksanakan dengan baik oleh beberapa orang tukang bangunan dibantu dengan beberapa orang buruh bangunan. Karena rancang bangun yang disusun Insinyur tersebut cukup lengkap dan operasional, sehingga seorang tukang pun dapat memahami dan melaksanakannya.
Berdasarkan ilustrasi di atas, maka kegiatan pembelajaran juga haruslah memiliki sebuah “rancang bangun” agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Rancang bangun tersebut berbentuk sebuah perangkat perencanaan pembelajaran. 

Friday, 21 October 2016

MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK

     Pembelajaran Tematik Menurut Rusmana (2014:254) merupakan salah satu model yang memungkinkan siswa (individu-kelompok) aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan seara holistik, bermakna dan autentik. pembelajaran terpadu berorentasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Dasar teori dari pembelajaran tematik dimotori oleh Gestalt dan juga Piaget, Piaget menekankan bahwa pembelajaran  haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. pendekatan ini lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
        Model pembelajaran tematik atau disebut juga model pembelajaran terpadu melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakana kepada siswa. Siswa akan memahami konsep-konsep yang dipelajarinya melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. fokus pembelajaran ini terletak pada proses yang ditempuh siswa saat memaknai isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkannya.

Saturday, 13 February 2016

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Roger, dkk dalam Huda (2012:29) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
Pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggungjawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajan anggota-anggota lain.
          Model pembelajaran Kooperatif memandang bahwa individu-individu akan lebih mampu untuk bekerja secara efektif dan lebih dapat mengerjakan sesuatu dengan sistematis dan efisien jika bekerja secara kelompok. Salah satu yang menjadi landasan dari belajar secara berkelompok berasal dari pandangan Kontruktivisme. Berikut adalah pernyataan yang dinyatakan oleh Vygotsky (Huda, 2012:24)
Mental siswa pertama kali berkembang pada  level interpersonal di mana mereka belajar menginternalisasikan dan mentransformasikan interaksi personal mereka dengan orang lain, lalu pada level intra-personal di mana mereka mulai memperoleh pemahaman dan keterampilan baru dari hasil interaksi ini.
Jadi dapat disimpulkan menurut pendapat di atas siswa akan dapat  memahami dan meningkatkan keterampilan dirinya berdasarkan hasil interaksi dengan kelompok belajarnya.
Model pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan model pembelajran lainnya. Menurut Arends (Sujana, 2013: 119), pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a.         Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar.
b.        Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah.
c.         Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda-beda.
d.        Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
Pada model kooperatif ini siswa lebih banyak mendapatkan kesempatan berbicara, inisiatif, menentukan pilihan dan secara umum mengembangkan kebiasaan yang baik Selanjutnya Jarolimek dan Parker (Riadf, 2009) mengarahkan kelebihan yang diperoleh dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut.
a.         Saling ketergantungan yang positif
b.        Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu
c.         Siswa dilibatkan daiam perencanaan dan pengelolaan kelas
d.        Suasana kelas yang rileks dan menyenanakan
e.         Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru
f.         Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenang

PENGERTIAN DRAMA DAN MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN SASTRA DI SD


       Drama terdiri atas babak dan adegan. Babak ditandai dengan pergantian waktu atau tempat. Adegan ditandai dengan masuk atau keluarnya tokoh. Pergantian waktu disebut berganti babak. Drama dapat diapresiasi sebagai karya sastra atau karya pertunjukan. Apresiasi drama dapat berupa apresiasi naskah drama dan apresiasi pertunjukan drama. Apresiasi lainya yang akan anda lakukan adalah menonton pertunjukan drama.bagi masyarakat timur khususnya masyarakat indonesia menonton drama lebih menyenangkan dari pada membaca drama. Dengan menonton apresiasi yang dilakukannya cenderung lebih santai, dan pekerjaan pikirannyatidak terlalu berat.
1.        Drama sebagai Karya Sastra
            Drama dapat diapresiasikan sebagai karya sastra dapat ditinjau dari berbagai segi estetikanya, misalnya nilai moral, unsur intrinsiknya (tokoh, tema, amanat, alur, gaya penulisan), unsur ekstrinsik (latar belakang pengarang, hubungan karya dengan situasi zaman, hubungan karya dengan karya seni lainnya.
2.        Drama sebagai Karya Pertunjukan
            Drama dapat diapresiasi sebagai karya pertunjukan berkaitan dengan seni peran, seni tari, seni musik dan seni suara, seni rupa. Seni peran berkenaan dengan gerakan-gerakan aktor dipentas agar terlihat dramatis dan kadang-kadang tidak seperti keseharian. Dalam drama terdapat pula seni tari jika diperlukan. Seni musik yang ada dalam drama akan membantu penonton mengapresiasi suasana. Musik atau suara yang melatari suatu adegan membantu aktor dalam perannya. Seni rupa terdapat pada tata panggung, dan tata rias. Rias para tokoh akan menentukan watak dan karakter.

PENGANTAR PROSA FIKSI

1.    Pengertian Prosa Fiksi
            Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Karya sastra fiksi atau biasa disebut cerita rekaan, merupakan salah satu jenis karya sastra yang beragam prosa.
            Adapun pengertian prosa fiksi menurut Aminuddin dalam Djuanda dan Iswara (2006: 158) adalah “kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeran, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasilimajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita”.
2.        Ragam Prosa Fiksi
            Prosa Fiksi dapat dibedakan atas cerita pendek dan novel. Ada juga yang memilahnya menjadi tiga, selain cerpen, dan novel, tersebut juga istilah roman.
a.         Cerita pendek ( Cerpen)
            Cerita pendek atau cerpen bukanlah sebuah novel yang dipendekan dan juga bukan bagian dari novel yang belum selesai. Menurut Sudjiman dalam Djuanda dan Iswara (2006 : 160) cerita pendek atau cerpen adalah kisah pendek ( kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan. Cerita pendek memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada suatu ketika. Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlihat dalam satu situasi.Tikaian dramatik, yaitu perbenturan antara kekuatan yang berlawanan, merupakan inti cerita pendek. Dibandingkan dengan novel, cerpen jauh lebih padu dalam kesatuan jalan cerita, memenuhi syarat sebagai cerita dalam arti mengakhiri karangan dengan mencapai penyelesaian. Dalam sebuah cerpen biasanya mempunyai plot yang diarahkan pada kejadian atau peristiwa tunggal.
            Kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak ( secara implisit) dari sekedar apa yang diceritakan.

JENIS-JENIS SASTRA

Beberapa jenis karya sastra diantaranya:
1.      Prosa Fiksi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia prosa berarti karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi). Sedangkan menurut Aminudin (2002) prosa fiksi merupakan “kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu denga pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dar hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
Sementara Zulfahnur, dkk (1996) berpendapat bahwa “prosa merupakan karangan bebas yang mengekspresikan pengalaman batin pengarang mengenai masalah kehidupan dalam bentuk dan isi yang harmonis yang menimbulkan kesan estetik”.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa prosa merupakan suatu karangan bebas yang mengekspresikan pengalaman pengarang dengan pemeranan serta rangkaian cerita sehingga menimbulkan kesan estetik.
Beberapa karya sastra yang termasuk kedalam prosa fiksi diantaranya cerpen, roman dan novel.
2.      Puisi
Secara etimologis puisi berasal dari bahasa Yunani “poeima” yang berarti membuat atau “poesis” yang berarti pembuatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia puisi merupakan gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Sedangkan menurut Leigh Hunt dalam Zulfahnur dkk (1997:80) ‘Puisi merupakan luapan perasaan yang imajinatif’.
Dari beberapa sumber diatas dapat kami simpulkan, bahwa pengertian puisi adalah luapan perasaan yang bersifat imajinatif yang dibuat secara cermat sehingga mempertajam perasaan penikmatnya dengan perantara bunyi, irama, dan makna khusus yang terkandung di dalamnya.

MANFAAT MENGAPRESIASI SASTRA


Banyak manfaat yang dapat diambil dari mengapresiasi sastra. Aminudin (2002) membagi manfaat apresiasi sastra kedalam dua kategori. Yaitu manfaat secara khusus dan manfaat secara umum. faat apresiasi sastra secara umum dapat dilihat dari manfaat membeca sastra yang diperoleh oleh pembaca pada umumnya lewat generalisasi. Dengan kata lain manfaatnya berhubungan dengan kegiatan membaca yang dilakukan oleh masyarakat pasa umumnya. Contohnya, seseorang membaca suau cerita fiksi untuk mengisi waktu luang di ruang tunggu dokter. Maka manfaat mengapresiasi sastranya akan hilang, karena manfaat dari mengapresiasi sastra tersebut hanya untuk mengisi waktu luang.
Sedangkan manfaat mengapresiasi sastra secara khusus diartikan sebagai manfaat yang diperoleh seorang pembaca sehubungan dengan upaya pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Diantaranya:
1.      Bermanfaat untuk mendapatkan berbagai macam nilai kehidupan.
Sebagai contoh seorang pembaca sastra membacasajak karya Asrul Sani yang berjudul “Surat dari Ibu” dibawah ini:
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi kea lam bebas!
Selama hari belum petang
Dan senja belum kemerah-merahan
Menutup pintu waktu lampau.
Pembaca mendapatka informasi yang berhubungan dengan nilai-nilai kehidupan dan memberikan pandangan yang dapat meningkatkan nilai kehidupannya.

PENDEKATAN DALAM MENGAPRESIASI SASTRA

          Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh seseorang sewaktu mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. Keanekaragaman pendekatan yang digunakan itu dalam hal ini lebih banyak ditentukan oleh (1) tujuan dan apa yang akan di apresiasi lewat teks sastra yang dibacanya, (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana, dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. Pemilihan dan penentuan pendekatan tersebut tentu sangat ditentukan oleh tujuan pengapresiasi itu sendiri.
       Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi, pembaca dapat menggunakan sejumlah pendekatan meliputi
1.        Pendekatan parafratis
2.        Pendekatan emotif
3.        Pendekatan analitis
4.        Pendekatan historis
5.        Pendekatan sosiopsikologis
6.        Pendekatan dikdatis
     Uraian tentang pengertian setiap jenis pendekatan tersebut, prinsip dasar yang melatarbelakanginya serta gambaran penerapannya dalam kegiatan apresiasi sastra dapat diuraikan sebagai berikut.
1.        Pendekatan parafratis
     Pendekatan prafratis adalah startegi pemahaman kandungan makna dalam suatu cipta sastra dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda dengan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnnya. Tujuan akhir dari pendekaran parafratis itu adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra.

APRESIASI SASTRA



     Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin apreciatio yang berarti “ mengindahkan” atau “ menghargai”. Dalam  dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove (dalam Aminudin, 2002, hlm.34) mengandung makna” (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.”  Pada sisi lain, Squire dan Taba (dalam Aminudin,2002, hlm.34) berkesimpulan bahwa “sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emptif, dan (3) aspek evaluatif”.
    Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur keasastraan yang bersifat objektif. Unsur-unsur sastra yang bersifat objektif tersebut, selain dapat berhubungan dengan unsur-unsur  yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra atau unsur intrinsik, juga dapat berkaitan dengan unsur-unsur di luar teks sastra yang secara langsung menunjang kehadiran teks sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sastra yang bersifat objektif itu misalnya tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana dalam hubungannya dengan kehadiran makna tersirat. Sedangkan unsur ekstrinsik antara lain berupa biografi pengarang, latar proses kreatif penciptaan maupun latar sosial-budaya yang menunjang kehadiran teks sastra.
      Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur-unsur pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca. Selain itu, unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-intepretatif serta dapat pula berupa unsur-unsur signifikan tertentu, misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis. Misalnya untuk memahami baris puisi Goenawan Moehammad, tahun pun turun membuka sayapnya/ke luas jauh benua-benua, seorang pada dasarnya tidak cukup mampu memahami aspek tulisan maupun bahasa yang digunakan, tetapi juga harus memiliki kepekaan emosi dalam menafsirkan makna subjektif yang ingin di ungkapkan penyairnya.

STRATEGI MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA

        Kemampuan berbicara anak bervariasi ada yang lancar, sedang dan kurang (gugup). Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk mengatasi hal ini. Keterampilan latihan berbicara secara kontinu dan sistematis dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak. Dengan kata lain setiap anak harus diberi kesempatan berbicara ketika di kelas, khususnya bagi yang keterampilan berbicaranya kurang. Semakin kurang terampil anak berbicara harus semakin sering melatihnya untuk berbicara. Untuk melatih keterampilan berbicara anak, perlu disediakannya berbagai kegiatan yang menunjang dan mampu mengembangkan kemampuan berbicara anak.
        Kegiatan-kegiatan untuk melatih keterampilan berbicara diantaranya :
1.        Menyajikan informasi
Setiap anak dilatih untuk memberikan informasi di hadapan teman-temannya. Bentuk penyajian informasi tersebut bisa dilakukan dengan menyampaikan laporan lisan dan berpidato.
2.        Berpartisipasi dalam diskusi
Jika dibandingkan dengan pidato dan laporan lisan, kegiatan diskusi lebih sering digunakan dalam mengembangkan keterampilan berbicara anak. Selain mengembangkan keterampilan berbicara diskusi juga menuntut anak untuk mampu mengeluarkan ide dan gagasan mereka secara langsung.
3.        Menyajikan pertunjukan yang menghibur
Menyajikan pertunjukan yang menghibur bisa dilakukan melalui kegiatan bercerita dan bermain peran.
       Seorang guru harus mengetahui bermacam-macam metode dalam pengajaran berbicara sehingga pengajaran keterampilan berbicara bisa lebih kreatif da menyenangkan. Tidak hanya itu seorang guru harus kaya pengalaman dengan metode pengajaran berbicara. 

HAKIKAT BERBICARA

         Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan, baik itu berupa gagasan, pikiran maupun perasaan dengan menggunakan bahasa lisan, ujaran, dan tuturan. Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh H.G. Tarigan (dalam Djuanda, 2008, hlm. 55) berbicara adalah “kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan”.
 Menurut Depdikbud, 1984 (dalam Resmini &Juanda, 2007, hlm. 51) berbicara juga dapat dikatakan sebagai ‘suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain’.
      Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa berbicara dapat diartikan sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi secara lisan yaitu dengan menyampaikan gagasan, pikiran, atau dapat dikatakan sebagai pesan kepada orang lain baik secara bertatapan langsung mau pun dengan jarak jauh.
  Berbicara bertujuan utama untuk berkomunikasi, namun dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa lisan atau berbicara, pembicara harus memahami makna yang akan disampaikan agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif. Selain itu pembicara juga harus mengevaluasi mengenai dampak dari apa yang ia sampaikan atau komunikasinya terhadap pendengar.
     Hal tersebut sejalan dengan  pendapat Djuanda (2008, hlm. 55) Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, sudah seharusnya pembicara memahami makna segala yang ingin dikomunikasikannya.
Sedangkan menurut Djago Tarigan, 1990 (dalam Djuanda, 2008, hlm. 55) terdapat lima tujuan pembicara, yaitu bebicara untuk menghibur, berbicara untuk menginformasikan, berbicara untuk menstimulasi, berbicara untuk meyakinkan, dan berbicara untuk menggerakan.
     Berbicara untuk menghibur ini berarti isi dari apa yang kita bicarakan itu dapat di menghibur orang yang mendengarkannya. Dalam isi pembicaraannya dapat berisi humor, dan cerita jenaka.  
      Berbicara untuk menginformasikan berarti dalam isi pembicaraannya tentang menyampaikan atau menderskipsikan sebuah berita, atau apapun yang dapat diinformasikan untuk pendengarnya. Berbicara untuk menstimulasi berarti pembicara harus mengetahui minat dan kebutuhan serta dapat merangsang pemikiran pendengar. Berbicara untuk meyakinkan berarti dalam isi pembicaraannya, pembicara harus bisa meyakinkan pendengarnya tentang sesuatu hal. Misalnya ketika seorang sales menjual barang dagangannya.  Berbicara untuk menggerakkan adalah seorang pembicara harus cakap dalam berbicara, berwibawa, mampu memanfaatkan situasi dan mampu mempengaruhi pendengar sehingga dapat menggerakkan pendengar setelah mendengarkan pembicaraannya tersebut.

    Dalam pembelajaran berbicara guru harus mengetahui perbedaan kemampuan berbicara setiap siswanya karena setiap siswa memiliki kemampuan berbicara yang berbeda-beda, ada siswa yang telah lancar dalam berbicara sehingga siswa tersebut dapat berkomunikasi dengan baik terhadap oranglain dan ada siswa yang masih kesulitan dalam berbicara karena siswa tersebut mengalami kesulitan dalam mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaannya sehingga proses komunikasi tidak dapat berjalan dengan baik.

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING

         Snowball secara etimologi berarti bola salju, sedangkan throwing artinya melempar. Snowball Throwing secara keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Model pembelajaran Snowball Trowing (ST) atau yang juga sering dikenal dengan Snowball Fight  merupakan model pembelajaran yang diadopsi pertama kali dari game fisik dimana segumpalan salju dilempar dengan maksud memukul orang lain. Dalam konteks pembelajaran, Snowball Trowing diterapkan dengan melempar segumpalan kertas untuk menunjuk siswa yang diharuskan menjawab soal dari guru. Model pembelajaran ini digunakan untuk memberikan konsep pemahaman materi yang sulit kepada siswa serta dapat juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan siswa dalam materi tersebut.
Pada pembelajaran ST, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing kelompok diwakili seorang ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru. Kemudian, masing-masing siswa membuat pertanyaan diselembar kertas yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain. Siswa yang mendapat lemparan kertas harus menjawab pertanyaan dalam kertas yang diperoleh.
Model pembelajaran ini melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain dan menyampaikan pesan tersebut kepada teman satu kelompoknya. Lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat sebagaimana pada strategi Talking Stick, tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada sisa lain. Siswa yang mendapatkan bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaan di dalamnya.
Menurut Huda (2013), langkah-langkah dalam model pembelajaran Snowball Trowing adalah sebagai berikut.
a.         Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
b.        Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
c.         Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman sekelompoknya.
d.        Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
e.         Siswa membentuk kertas tersebut seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama 15 menit
f.         Setelah siswa mendapat satu bola, ia diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas tersebut secara bergantian.
g.        Guru mengevaluasi dan menutup pembelajaran.